Minggu, 07 April 2013

Contoh Analisis Drama

"SEPASANG MERPATI TUA"
KARYA: BAKTI SOEMANTO

Para pelaku:
1. Nenek
2. Kakek
Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela.
Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-sebentar ia menengok ke belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam.
1. Nenek : (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…(Mengambil cangkir, lalu meminumnya)
2. Kakek : (Masuk). Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu?
3. Nenek : Astaga! Tuan rumah mau pesiar ke mana menjelang malam begini?
4. Kakek : Tidak ke mana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja, sambil baca Koran.
5. Nenek : Mengapa membaca koran mesti pakai kopiah segala?
6. Kakek : Agar komplit, Bu
7. Nenek : yaaah. Waktu dulu kau jadi juru tulis, empat puluh tahun lampau. Tapi sekarang, kopiah hanya bernilai tambah penghangat belaka.
8. Kakek : (Berjalan menuju ke meja, mengambil Koran, lalu pergi ke sofa, membuka lembarannya)
9. Nenek : Mengapa tidak duduk di sini?
10. Kakek : Sebentar.
11. Nenek : Ada berita rahasia
12. Kakek : Rahasia?
13. Nenek : Habis kau baca Koran kenapa menyendiri?
14. Kakek : Malu.
15. Nenek : Malu? Kau aneh. Malu pada siapa?
16. Kakek : Dilihat banyak orang tuuuh. (Menunjuk penonton). Sudah tua kenapa pacaran terus….
17. Nenek : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
18. Kakek : Gila. Malah demonstrasi.
19. Nenek : Sekali waktu memang perlu.
20. Kakek : Ya, tapi kan bukan untuk saat ini?
21. Nenek : Kukira justru!
22. Kakek : Duilah apa-apaan ini.
23. Nenek : Agar orang tetap tahu, aku milikmu.
24. Kakek : Siapa mengira kita sudah cerai?
25. Nenek : Ah, wanita. Bagaimanapun sudah tua, aku tetap wanita. (Berdiri, pergi ke kursi dan duduk). Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takut kehilangan, tapi menuntut kenyataan-kenyataan.
26. Kakek : Bagus!
27. Nenek : apa maksudmu?
28. Kakek : Tindakan terpuji, itu namanya.
29. Nenek : He, apa sih maksudmu, pak?
30. Kakek : Mengaku dosa di depan orang banyak!
31. Nenek : Hu…hu…hu… (Menangis)
32. Kakek : He, ada apa kau, Bu? Ada apa? Digigit nyamuk rupanya?
33. Nenek : Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini? Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut dapat malu toh. Hu…hu…hu…
34. Kakek : Bukan maksudku memperolok-olok kau, Bu. Aku justru memuji tindakanmu yang berani.
35. Nenek : (Tiba-tiba berhenti menangis). Berani? Aku pemberani?
36. Kakek : Ya, kau pantas disejajarkan dengan ibu kita Kartini.
37. Nenek : Ibu Tin?
38. Kakek : Bukan, bukan bu tin, Ibu kita Kartini.
39. Nenek : Tetapi, kan ibu kita Kartini juga bisa kita sebut Bu Tin, kan. Apa salahnya?
40. Kakek : Hush, diam! Ingat ini di depan orang banyak. Maka jangan main semberono dengan sebutan-sebutan yang multi interpretable….
41. Nenek : Ah, laga profesormu kumat lagi, pak?
42. Kakek : Yaaa, aku dulu memang punya cita-cita jadi professor.
43. Nenek : Dan kandas.
44. Kakek : Belum. O, malah sudah berhasil. Cuma tunggu pengakuan.
45. Nenek : Siapa yang akan mengakui keprofesoranmu? Kau tidak mengajar di perguruan tinggi maupun di dunia ini.
46. Kakek : Secara formal memang tidak. Secara material ia.
47. Nenek : Hah, bagaimana mungkin?
48. Kakek : Kau lihat, banyak mahasiswa yang dating kemari, bukan? Tidak hanya itu, malahan para guru besar pada datang ke mari. Mereka mengajak diskusi aku, segala macam soal. Dari soal-soal tata pemerintahan sampai bagaimana mengatasi kesepian.
49. Nenek : Bukankah itu Cuma omong-omong, mengapa mesti dikatakan diskusi?
50. Kakek : Siapa bilang orang memberi kuliah di depan kelas tidak pake omong, he…?
51. Nenek : Mestinya kau tidak usah jadi professor saja, Pak. Jadi diplomat ulung saja
52. Kakek : Aku kurang senang jadi diplomat.
53. Nenek : Tapi kau lebih terkemuka, lebih ternama, lebih terkenal.
54. Kakek : Diplomat terlalu banyak menipu hati nuraninya sendiri. (Nenek termenung tiba tiba)
55. Kakek : Ada apa kau? Kau tidak senang aku jadi professor. Kau kepingin aku jadi diplomat? Baik. Aku akan jadi diplomat demi keelamatan perkawinan kita.
56. Kakek : Aku akan segera jadi diplomat sekarang juga. Di mana posku? Negara-negara Barat? Timur? Asia? Atau PBB…?
57. Nenek : Ya, PBB saja….
58. Kakek : Tapi… (Lalu duduk di sofa termenung)
59. Nenek : Itu lebih terhormat di PBB. Siapa tahu kau akan dipilih jadi ketua sidang, lantas kelak jadi sekretaris jenderal… (Kakek geleng kepala)
60. Nenek : Kurang besar kedudukan itu. Atau diplomat surgawi saja? (Kakek memandang nenek)
61. Nenek : Tapi itu lebih sukar, sebab Tuhan susah diajak berdebat. Tuhan Cuma diam saja. Orang hanya mengerti apa mau Tuhan kalau sudah terlaksana. Sedang rencana-rencana selanjutnya. Masih gelap bukan? Bagaimana kau mengajukan argumentasi-argumentasimu jika mau ajak Tuhan berdiskusi? (Kakek geleng kepala)
62. Nenek : Nah, paling terhormat jadilah diplomat wakil republik kita tercinta di PBB… (Kakek geleng kepala)
63. Nenek : Aku sungguh tidak mengerti cita-citamu, Pak.
64. Kakek : Aku ingin jadi diplomat yang diberi pos di kolong jembatan saja….
65. Nenek : Ah, gila. Itu pekerjaan gila.
66. Kakek : Banyak diplomat yang dikirim ke pos-pos maupun di dunia ini. Tapi pemerintah belum punya wakil untuk bicara-bicara dengan mereka yang ada di kolong jembatan, bukan? Ini tidak adil. Maka aku menyatakan diri. Maka aku menyediakan diri untuk mewakili pemerintahan ini sebagai diplomat kolong jembatan.
67. Nenek : Tapi kau akan terhina
68. Kakek : Selama kedudukan adalah diplomat, dimanapun ditempatkan sama saja terhinanya, sama saja mulianya.
69. Nenek : Aku tidak rela kalau kau ditempatkan di pos terhina itu.
70. Kakek : Kau balum tahu, justru paling mulia di antara pos-pos dimanapun juga.
71. Nenek : Kau sudah tidak waras.
72. Kakek : Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu di bujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri-sendiri. Tidak sekedar di halau, di usir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk….
73. Nenek : Ah... bagaimana, nanti kalau aku arisan dan ditanya teman-teman. Bagaimana jawabku, Pak. Coba bayangkan, bayangkan….
74. Kakek : Istriku, aku mengerti, bagaimana kau akan turun gengsi nanti. Tapi kau tidak usah khawatir, kalau kau datang arisan yang lima ribuan, dan kau ditanya orang-orang apa pekerjaanku jawab saja diplomat, titik. Kolong jembatannya tidak usah disebut. Kalau kau dating ke arisan yang seratusan, saya kira tak ada salahnya kalau kau ngomong diplomat kolong jembatan…
75. Nenek : Tapi kalau teman-teman arisan lima ribuan tanya, di mana posnya?
76. Kakek : Ah… (memegangi kepalanya). Begini, diplomat bagian sosial… hebat toh?
77. Nenek : Masak ada diplomat sosial?
78. Kakek : Kau ini bagaimana, diplomat itu serba mungkin asal kau pintar main lidah, beres. Coba, kau kan tahu ada diplomat pimpong, ada diplomasi SPP, diplomasi macam-macam saja ada.
79. Nenek : Ah, susah aku tak ingin kau jadi diploamat, Pak.
80. Kakek : Tapi, aku sudah terlanjur cinta dengan pekerjaan itu.
(Nenek termenung)
81. Kakek : (Memandang Nenek). Susah…
82. Nenek : Siapa?
83. Kakek : Kita semua
84. Nenek : Termasuk para penonton itu?
85. Kakek : Ya.
86. Nenek : Kenapa?
87. Kakek : Karena kita hidup
88. Nenek : Mengapa begitu?
89. Kakek : Orang hidup punya beban sendiri. (pergi mengambil teko, menuang kopi, lalu meminumnya)
(Nenek memandang tindakan-tindakan sang suami. Kakek membuka stoples lalu memakan makanannya)
90. Nenek : Seorang diplomat harus tahu aturan.
91. Kakek : Apa maksudmu?
92. Nenek : Makan tidak boleh sambil berdiri. Ini adalah adat Timur.
93. Kakek : Sudah nyopot dari pekerjaan.
94. Nenek : Mau pindah pekerjaan?
95. Kakek : Ya.
96. Nenek : Apa?
97. Kakek : Teknokrat.
98. Nenek : Gila.
99. Kakek : Aku mau jadi teknokrat dalam bidang….
100. Nenek : Ekonomi?
101. Kakek : Bukan.
102. Nenek : Politik?
103. Kakek : Bukan.
104. Nenek : Militer?
105. Kakek : Bukan.
106. Nenek : Lalu apa?
107. Kakek : Bidang persampahan.
108. Nenek : Apa?
109. Kakek : Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat di jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya… (Nenek termenung)
110. Kakek : Kau tidak senang?
111. Nenek : Mengapa kita berpikir yang bukan-bukan?
112. Kakek : Karena kita tak lagi sanggup melihat kenyataan-kenyataan.
113. Nenek : Mengapa?
114. Kakek : Kenyataan yang kita lihat, adalah tipuan belaka adanya.
115. Kakek : Hidup kita diwarnai dengan cara berpikir yang sadis.
116. Nenek : Ah, makin pusing mendengarkan bicaramu
117. Kakek : Kita berpikir karena kita mengerti. Tapi karena berpikir perlu sistem, sistem membelenggu kita. Kita jadi tolol. Saya lagu-lagu. Saya rindu puisi-puisi. Orang-orang zaman ini tidak mengerti puisi-puisi. Kita sudah jadi robot semua. Berjalan dengan satu disiplin mati. Dengan teori yang tidak kita pahami sendiri…keutuhan manusia sudah dikerdilkan. Hubungan seks tinggal bernilai nafsu. Kesenian diukur filsafat seketika, atau kesenian sudah dikonsepkan. Juga hidup kita didoktrinkan… ini tidak bisa. Akibatnya, kita tenggelam pada ukuran-ukuran mini. Kita rindu Sofokles, Aristoteles, Albesepkan. Juga hidup kita didoktrinkan… ini tidak bisa. Akibatnya, kita tenggelam pada ukuran-ukuran mini. Kita rindu Sofokles, Aristoteles, Albesepkan. Juga hidup kita didoktrinkan… ini tidak bisa. Akibatnya, kita tenggelam pada ukuran-ukuran mini. Kita rindu Sofokles, Aristoteles, Albert Camus, Amir Hamzah, Chairil Anwar,… Geoethe, Shakespeare. Mereka harus ditakdirkan kembali di sini. Citra manusia yang terpancar dari karya-karya mereka harus dipancarkan kembali di sini.
118. Nenek : Suamiku… Suamiku… Suamiku… Sudahlah….
119. Kakek : Hidup manusia harus dikembalikan keutuhannya, manusia harus….
120. Nenek : Sudahlah… (Menuntun ke sofa)
121. Kakek : Manusia harus menghayati hidupnya, bukan menghayati disiplin mati itu… doktrin-doktrin itu harus… harus….
122. Nenek : Suamiku, sudahlah nanti penyakit napasmu kumat lagi. Kalau kau terlalu semangat begitu….
123. Kakek : Kreativitas harus dibangkitkan. Bukan dengan konsep-konsep tetapi dengan merangsangnya… dengan menggoncangkan jiwanya agar tumbuh keberaniannya menjadi diri sendiri. Tidak menjadi manusia bebek. Yang Cuma meniru, meniru, meniru… (Kakek rebah, Nenek menjerit)
124. Nenek : (Terseduh)
125. Kakek : (Bangkit tetapi tidak diketahui oleh Nenek). Mengapa kau menangisi aku, tangisilah dirimu sendiri.
126. Nenek : Kau masih hidup…?
127. Kakek : Aku tidak begitu yakin, selama aku terbelenggu oleh doktrin. Aku hanya mengerti, apa aku hidup atau tidak, kalau aku menghayati hidupku sendiri….
128. Nenek : Tetapi kau berbicara, kau bernapas….
129. Kakek : Bukan itu ukuran adanya kehidupan.
130. Nenek : Jangan bicara yang sukar-sukar, aku tidak mengerti.
131. Kakek : Tentu saja, karena kau belum mengerti hidup.
132. Nenek : Delapan puluh tahun kujalani hidup. Benarkah aku belum mengerti.
133. Kakek : Umur pun bukan ukuran, selama kau menjalani hidup kau mengikuti doktrin-doktrin itu….
134. Nenek : Bagaimana seharusnya, Sayangku?
135. Kakek : Renungkan dirimu sendiri dan sudah itu menangis!
136. Nenek : Nanti saja, kalau sudah tak ada orang banyak…. (Terdengar suara jam dinding dua belas kali).

137. Nenek : Sudah larut tengah malam.
138. Kakek : Ya. Dan sebentar lagi ambang pagi akan datang.
139. Nenek : Kita akan menjadi segar kembali
140. Kakek : Dan tambah tua… (Nenek termenung. Kakek termenung)
141. Nenek : Kapan kita mati? 
142. Kakek : Entah. Tapi kita harus siap-siap
143. Nenek : Sungguh ngeri!
144. Kakek : Memang. Tapi itulah kenyataannya.
145. Nenek : Aku takut
146. Kakek : Aku juga… (Terdengar lonceng jam dinding dua belas kali)
147. Nenek : Dua belas kali…
148. Nenek : Aneh! Ini tidak mungkin. Apa aku salah mendengar?
149. Kakek : Memang begitu. Kau tidak salah dengar.
150. Nenek : Tapi ini di luar kebiasaan. Tadi sudah berbunyi dua belas kali, mestinya bunyi lagi satu kali…, begitu kan? 
151. Kakek : Mudah-mudahan kau tahu, begitulah hidup. Kebiasaan-kebiasaan, ukuran- ukuran, konsep-konsep tidak terlalu cocok….
152. Nenek : Bagaimana cara kita mengerti…?
153. Kakek : Itulah soalnya….
(Layar turun, lampu mati)

a. Unsur Intrinsik
1. Tema
Tema dari drama Sepasang Merpati Tua, karya Bakti Soemanto, yaitu “ Keinginan/ harapan Untuk Meraih Kesejahteraan Hidup”.
Hal ini dibuktikan dengan keinginan Kakek yang ingin menjadi seorang diplomat yang diberi pos di kolong jembatan demi membujuk para penghuni kolong jembatan agar mau memperbaiki hidup/nasib mereka dengan mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri sendiri. Serta keinginan Kakek untuk menjadi seorang Teknokrat dalam bidang sampah-sampah demi menghindari terjadinya banjir akibat dari menumpuknya sampah-sampah si selokan.

Kakek : Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu di bujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri-sendiri. Tidak sekedar di halau, di usir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk….

Kakek : Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya…

2. Tokoh dan Penokohan
Tokoh-tokoh yang terdapat dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu: 
1. Tokoh utamanya, yaitu Nenek. Ia adalah tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian. 
2. Tokoh Tambahannya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung. 
3. Tokoh protagonisnya, yaitu Nenek. Ia merupakan tokoh yang baik dan pembangun alur dalam cerita. 
4. Tokoh antagonisnya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang yang memberi konflik pada tema dan memiliki kehendak yang berlawanan dengan Nenek. 
5. Tokoh sederhana, yaitu Nenek. Ia memiliki sifat yang baik dari awal hingga akhir cerita. 
6. Tokoh bulatnya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang memiliki perkembangan dalam kehidupannya, yang awalnya ia merupakan orang yang percaya diri dan sehat. Namun, pada saat ia mengungkapkan kemarahannya pada peraturan pemerintahan, membuatnya rebah tak berdaya. 
7. Tokoh datarnya, yaitu Nenek. Ia merupakan tokoh yang dari awal sampai akhir cerita tetap menunjukan sikap kabaikannya. 
8. Tokoh Sta tisnya, yaitu Nenek. Ia merupakan tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi. 
9. Tokoh berkembangnya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang cenderung akan menjadi tokoh yang kompleks. Hal itu disebabkan adanya berbagai perubahan dan perkembangan sikap, watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapkannya berbagi sisi kejiwaanya.
10. Tokoh sentralnya, yaitu Nenek. Ia merupakan tokoh yang sangat potensial dalam menggerakan alur.
11. Tokoh bawahannya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang tidak begitu besar pengaruhnya terhadap perkembangan alur, walaupun ia terlibat juga dalam pengembangan alur itu. 

Penokohan dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu: 
Nenek, seorang wanita yang baik, manja, pengkritik, cengeng, pemberani, gengsi, dan peduli. Kebaikannya ia tunjukan ketika ia mau mendengarkan kata-kata Kakek walaupun ia selalu tidak memahami arti dari kata-kata Kakek, tetapi ia pun mendukung si Kakek untuk memenuhi keinginannya dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat disekelilingnya. Sikap manjanya ia tunjukan ketika ia berdiri menghampiri Kakek dan duduk disebelahnya, yang kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri. Sikap pengkritiknya ia tunjukan pada saat ia selalu menyela dan mengkritik segala ucapan Kakek. Sikap cengengnya ia tunjukan pada saat ia menangis karena tersinggung mendengar kata-kata Kakek yang mengatakan bahwa “Mengaku dosa didepan orang banyak”, serta menangis pada saat Nenek melihat Kakek rebah tak berdaya karena terlalu banyak bicara. Sikap pemberaninya ia tunjukan ketika ia berani mengakui dosanya di depan penonton dengan mengatakan bahwa “Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takut kehilangan, tapi menuntut kenyataan-kenyataan”. Sifat gengsinya ia tunjukan ketika ia tidak mau menerima Kakek menjadi diplomat kolong jembatan dan teknokrat bidang persampahan karena gengsi pada teman-temannya. Dan sifat pedulinya ia tunjukan ketika ia memperingatkan Kakek agar tidak terlalu banyak bicara karena penyakit napas yang dideritanya dan berusaha menyadarkan Kakek dalam rebahannya. 

Kakek, seorang lelaki yang baik, bijaksana, bergaya, pemalu, peduli, pemuji, pengkritik, percaya diri, dan semangat tingkat tinggi. Kebaikannya ia tunjukan dalam jiwanya yang tertanam nilai-nilai kemanusiaan yang begitu kuat, ia ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengubah pola pikir serta konsep yang tidak mengutamakan masyarakat menjadi orang yang lebih baik. Kebijaksanaannya ia tunjukan ketika ia mau mendengarkan nasehat istrinya dengan penuh lapang dada dan dengan kebijaksanaanya pula ia menerima segala keluhan-keluhan istrinya. Sifat bergayanya ia tunjukan pada saat ia bersolek dengan 
22. Penjelasan Kakek tentang alasan mengapa ia memilih provesi barunya itu. 
23. Kesadaran Nenek terhadap pemikiran-pemikiran mereka.
24. Penjelasan Kakek terhadap pertanyaan Nenek ketika menyadari pemikiran-pemikiran yang mereka perdebatkan.
25. Kepusingan Nenek ketika mendengarkan penjelasan Kakek yang tidak dipahaminya.
26. Penjelasan yang terus dilakukan Kakek kepada Nenek tentang kehidupan dunia sekarang yang jauh berbeda dengan kehidupan yang dulu hingga sekarang.
memakai kopiah ketika keluar kamar hendak membaca koran. Sifat pemalunya ia tunjukan ketika ia malu pada penonton ketika ia berduaan dengan istrinya. Sifat pedulinya ia tunjukan pada keadaan masyarakat dan lingkungan hingga ia menghayal ingin menjadi diplomat dan teknokrat demi meningkatkan kesejahteraan masyarakt dan kebersihan lingkungan. Sifat pemujinya ia tunjukan ketika ia memuji sifat Nenek yang pemberani ketika Nenek berani mengakui dosanya di depan penonton. Sifat pengkritiknya ia tunjukan pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Sifat percaya dirinya ia tunjukan ketika ia mengaku bahwa ia adalah profesor layaknya guru besar yang mengajar diperguruan tinggi walaupun keprofesorannya hanya tercermin pada saat ia berdiskusi dengan para guru besar dan mahasiswa. Dan sifat semangat tingkat tingginya ia tunjukan ketika ia mengeluarkan semua kekesalan di dalam hatinya terhadap peraturan pemerintah hingga membuatnya rebah tak berdaya karena penyakit napasnya kumat kembali. 

3) Dialog
Nenek : (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…(Mengambil cangkir, lalu meminumnya)
Kakek : (Masuk). Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu?
Nenek : Astaga! Tuan rumah mau pesiar ke mana menjelang malam begini?
Kakek : Tidak ke mana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja, sambil baca Koran.
Nenek : Mengapa membaca koran mesti pakai kopiah segala?
Kakek : Agar komplit, Bu….
Kutipan di atas disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang. Kutipan teks drama di atas dapat disebut sebagai dialog karena diucapkan secara bergantian oleh tokoh Nenek dan Kakek.

4. Alur
Alur dari drama Sepasang Merpati Tua, karya Bakti Soemanto ini adalah:
1) Eksposisi (pelukisan awal)
a. Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela. (Pengenalan Latar Pentas)
b. Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-sebentar ia menengok ke belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam.
Nenek : (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…(Mengambil cangkir, lalu meminumnya)
Kakek : (Masuk). Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu?
(Pengenalan Para Tokoh)
Dari penggalan drama di atas, terlihat bahwa drama Sepasang Merpati Tua ini dimulai dengan penggambaran latar pentas yang dibuat oleh pengarang sebagai pengantar cerita. kemudian, dilanjutkan dengan pengenalan para tokoh yang di awali dengan Nenek duduk sendiri di ruang tengah rumah sambil menyulam dan sedang menunggu Kakek datang, hingga Kakek datang dengan memakai kopiah.

2) Konflik
Kakek : Mengaku dosa di depan orang banyak!
Nenek : Hu…hu…hu… (Menangis)
Kakek : He, ada apa kau, Bu? Ada apa? Digigit nyamuk rupanya?
Nenek : Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini? Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut dapat malu toh. Hu…hu…hu…
Kakek : Bukan maksudku memperolok-olok kau, Bu. Aku justru memuji tindakanmu yang berani.
Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai masuk pada tahap konflik. Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa Nenek merasa di ejek/di olok-olok oleh Kakek dengan kata-kata “Mengaku dosa di depan orang banyak”, hingga membuatnya menagis dengan kata-kata tersebut.

3) Komplikasi (pertikaian)
… 
Nenek : Ah, laga profesormu kumat lagi, pak?
Kakek : Yaaa, aku dulu memang punya cita-cita jadi professor.
Nenek : Dan kandas.
Kakek : Belum. O, malah sudah berhasil. Cuma tunggu pengakuan.
Nenek : Siapa yang akan mengakui keprofesoranmu? Kau tidak mengajar di perguruan tinggi maupun di dunia ini.
Kakek : Secara formal memang tidak. Secara material ia…
.… 
Nenek : Mestinya kau tidak usah jadi professor saja, Pak. Jadi diplomat ulung saja
Kakek : Aku kurang senang jadi diplomat.
Nenek : Tapi kau lebih terkemuka, lebih ternama, lebih terkenal.
Kakek : Diplomat terlalu banyak menipu hati nuraninya sendiri. (Nenek termenung tiba tiba)
Kakek : Ada apa kau? Kau tidak senang aku jadi professor. Kau kepingin aku jadi diplomat? Baik. Aku akan jadi diplomat demi keelamatan perkawinan kita….
… 
Nenek : Mau pindah pekerjaan?
Kakek : Ya.
Nenek : Apa?
Kakek : Teknokrat….

Cerita dilanjutkan dengan perdebatan antara Nenek dan Kakek tentang jabatan yang ingin dicapai oleh Kakek. Dimulai dengan keinginan Kakek yang ingin menjadi profesor tetapi ditentang oleh Nenek yang lebih mengizinkan Kakek untuk menjadi diplomat dan Kakek pun menerima saran Nenek demi menyelamatkan perkawinan mereka. Dan ceritanya dilanjutkan dengan keinginan Kakek yang ingin pindah jabatan dari diplomat menjadi teknokrat.

4) Klimaks (puncak ketegangan)
Kakek : Kita berpikir karena kita mengerti. Tapi karena berpikir perlu sistem, sistem membelenggu kita. Kita jadi tolol. Saya lagu-lagu. Saya rindu puisi-puisi. Orang-orang zaman ini tidak mengerti puisi-puisi. Kita sudah jadi robot semua. Berjalan dengan satu disiplin mati…. 
Nenek : Suamiku… Suamiku… Suamiku… Sudahlah….
Kakek : Hidup manusia harus dikembalikan keutuhannya, manusia harus….
Nenek : Sudahlah… (Menuntun ke sofa)
Kakek : Manusia harus menghayati hidupnya, bukan menghayati disiplin mati itu… doktrin-doktrin itu harus… harus….
Nenek : Suamiku, sudahlah nanti penyakit napasmu kumat lagi. Kalau kau terlalu semangat begitu….
Kakek : Kreativitas harus dibangkitkan. Bukan dengan konsep-konsep tetapi dengan merangsangnya… dengan menggoncangkan jiwanya agar tumbuh keberaniannya menjadi diri sendiri. Tidak menjadi manusia bebek. Yang Cuma meniru, meniru, meniru… (Kakek rebah, Nenek menjerit)
Nenek : (Terseduh)
Cerita mencapai puncaknya pada saat Kakek berbicara dengan penuh semangat hingga ia tidak dapat mengontrol bicaranya sendiri yang membuat penyakit napasnya kambuh kembali. Peringatan Nenek tidak didengarnya karena semangatnya tersebut. Karena semangatnya yang terlalu berlebihan, hingga membuatnya rebah dan membuat Nenek menjerit dan menangis.

5) Peleraian
Kakek : (Bangkit tetapi tidak diketahui oleh Nenek). Mengapa kau menangisi aku, tangisilah dirimu sendiri. Nenek : Kau masih hidup…?
Kakek : Aku tidak begitu yakin, selama aku terbelenggu oleh doktrin. Aku hanya mengerti, apa aku hidup atau tidak, kalau aku menghayati hidupku sendiri….
Nenek : Tetapi kau berbicara, kau bernapas….
Kakek : Bukan itu ukuran adanya kehidupan….
Cerita ini dileraikan dengan bangkitnya Kakek dari rebahnya dan penjelasan Kakek kepada Nenek tentang arti kehidupan yang sebenarnya.

6) Penyelesaian
Nenek : Dua belas kali…
Nenek : Aneh! Ini tidak mungkin. Apa aku salah mendengar?
Kakek : Memang begitu. Kau tidak salah dengar.
Nenek : Tapi ini di luar kebiasaan. Tadi sudah berbunyi dua belas kali, mestinya bunyi lagi satu kali…, begitu kan?
Kakek : Mudah-mudahan kau tahu, begitulah hidup. Kebiasaan-kebiasaan, ukuran- ukuran, konsep-konsep tidak terlalu cocok….
Nenek : Bagaimana cara kita mengerti…?
Kakek : Itulah soalnya….
Cerita ini diselesaikan dengan bunyinya lonceng jam dinding dua belas kali untuk yang kedua kalinya yang membuat Nenek heran, dan penjelasan lebih lanjut oleh Kakek tentang kehidupan bahwa kebiasaan, ukuran, dan konep tidak terlalu cocok untuk hidup manusia. Dan juga masih menyisahkan pertanyaan tentang bagaimana cara mengerti kahidupan. Cerita ini pun berakhir happy ending karena Kakek kembali tersadar dari perebahannya dan bersatu kembali dengan Nenek.
Jika ditinjau dari pengarang mengakhiri cerita (pengakhirannya), alur drama tersebut diakhiri dengan teknik plot terbuka, dimana pada akhir cerita masih menyisahkan pertanyaan tentang arti kehidupan, sehingga masih menyisahkan pertanyaan dari dalam diri penonton tentang bagaimana arti dari kehidupan tersebut. Dan cerita ini beralur maju (progresif) karena ceritanya di mulai dari awal hingga akhir.
Penggambaran alur drama Sepasang Merpati Tua dalam bentuk sekuen, yaitu:
1. Deskripsi keadaan ruang tengah rumah sepasang orang tua (Kakek dan Nenek).
2. Kejengkelan Nenek kepada kakek yang masih saja bersolek.
3. Kakek memamerkan kopiahnya kepada Nenek.
4. Singgungan nenek kepda kakek yang membaca Koran dengan memakai kopiah (= sekuen 2, 12, 19)
5. Jawaban santai Kakek terhadap singgungan pertanyaan Nenek.
6. Sikap mesra yang ditunjukan oleh Nenek kepada Kakek dengan menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek.
7. Sikap Kakek yang terkejut karena sikap mesra yang ditunjukan oleh Nenek.
8. Perkataan Kakek yang membuat Nenek menangis.
9. Jawaban Nenek yang menyatakan alasan mengapa ia menangis.
10. Penjelasan kakek terhadap jawaban dari Nenek.
11. Pujian yang dilontarkan Kakek kepada Nenek agar berhenti menangis.
12. Singgungan Nenek kepada Kakek yang mengandaikan Kakek sebagai professor (= sekuan 2 dan 4, 19)
13. Penjelasan-penjelasan Kakek kepada Nenek dalam memuji diri.
14. Saran Nenek kepada Kakek untuk mengganti provesi.
15. Kebijaksanaan Kakek dalam menerima saran Nenek demi keselamatan perkawinan mereka.
16. Berbagai jenis diplomat yang disarankan Nenek kepada Kakek.
17. Kekecewaan Nenek terhadap keputusan yang diambil oleh Kakek.
18. Kekecewaan Kakek terhadap kehidupan di dunia.
19. Singgungan nenek kepada kakek yang makan sambil berdiri (= sekuen 2,4,12)
20. Pernyataan Kakek untuk mengganti provesinya.
21. Kekagetan Nenek ketika mendengar provesi baru yang diinginkan oleh Kakek.a membuat Kakek menjadi jatuh/rebah.
27. Jatuhnya Kakek membuat Nenek menjadi menangis.
28. Kekagetan Nenek karena melihat Kakek sadarkan diri.
29. Penjelasan Kakek terhadap kehidupan yang sebenarnya.
30. Jam 12 malam menunjukan waktu telah larut.
31. Ketakutan Kakek dan Nenek terhadap kematian yang datangnya secara tiba-tiba.
32. Kekagetan Nenek ketika mendengar jam berbunyi 12 kali untuk yang kedua kalinya.
33. Penjelasan Kakek terhadap pendengaran Nenek.
34. Pertanyaan Nenek tentang bagaimana cara memahami kahidupan.
35. Jawaban Kakek terhadap pertanyaan Nenek.

5) Latar/setting
Latar dari drama Sepasang Merpati Tua, karya Bakti Soemanto ini terbagi tiga dua jenis, yaitu:
1) Latar Tempat
a) Ruangan tengah rumah, tempat Kakek dan Nenek duduk berbincang-bincang.
“Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua.”
b) Sofa, tempat Kakek duduk membaca Koran dan tempat Nenek menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek.
Kakek : (Berjalan menuju ke meja, mengambil Koran, lalu pergi ke sofa, membuka lembarannya)” dan pada kutipan
Nenek : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
c) Meja makan, tempat Nenek mengambil cangkir dan tempat Kakek mengambil panganan dari toples.
Nenek : (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…(Mengambil cangkir, lalu meminumnya)” dan pada kutipan
(Nenek memandang tindakan-tindakan sang suami. Kakek membuka stoples lalu memakan makanannya)
d) Kursi, tempat Nenek duduk setelah bangkit dari sofa.
Nenek : Ah, wanita. Bagaimanapun sudah tua, aku tetap wanita. (Berdiri, pergi ke kursi dan duduk). Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takut kehilangan, tapi menuntut kenyataan-kenyataan.

2) Latar Waktu
a) Menjelang malam hari, waktu Kakek dan Nenek berbincang-bincang.
Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-sebentar ia menengok ke belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam.
b) Empat puluh tahun yang telah lampau, waktu Kakek menjadi juru tulis.
Nenek : yaaah. Waktu dulu kau jadi juru tulis, empat puluh tahun lampau. Tapi sekarang, kopiah hanya bernilai tambah penghangat belaka.
c) Delapan puluh tahun, waktu Nenek menjalani kehidupan.
Nenek : Delapan puluh tahun kujalani hidup. Benarkah aku belum mengerti.
d) Jam 12 malam, waktu Kakek dan Nenek tersadar bahwa waktu telah larut.
Nenek : Nanti saja, kalau sudah tak ada orang banyak…. (Terdengar suara jam dinding dua belas kali).
Nenek : Sudah larut tengah malam.
3) Latar Suasana
a. Jengkel, perasaan Nenek kepada Kakek karena selalu bersolek dengan memakai kopiah ketika membaca koran.
Nenek : (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…(Mengambil cangkir, lalu meminumnya)
Kakek : (Masuk). Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu?
Nenek : Astaga! Tuan rumah mau pesiar ke mana menjelang malam begini?
Kakek : Tidak ke mana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja, sambil baca Koran.
b. Romantis, suasana ketika Nenek duduk di samping Kakek sambil menyandarkan kepalanya ke bahu kakek sebelah kiri.
Nenek : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
c. Mengolok-olok, suasana ketika Kakek berbicara kepada Nenek hingga membuatnya menangis.
Kakek : Tindakan terpuji, itu namanya.
Nenek : He, apa sih maksudmu, pak?
Kakek : Mengaku dosa di depan orang banyak!
Nenek : Hu…hu…hu… (Menangis)
Kakek : He, ada apa kau, Bu? Ada apa? Digigit nyamuk rupanya.
Nenek : Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini? Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut dapat malu toh. Hu…hu…hu
d. Sedih, suasana hati Nenek ketika diolok-olok oleh Kakek dan suasana hatinya ketika Kakek rebah tah berdaya.
Kakek : Mengaku dosa di depan orang banyak!
Nenek : Hu…hu…hu… (Menangis). 
Dan pada kutipan:
Kakek : Kreativitas harus dibangkitkan. Bukan dengan konsep-konsep tetapi dengan merangsangnya… dengan menggoncangkan jiwanya agar tumbuh keberaniannya menjadi diri sendiri. Tidak menjadi manusia bebek. Yang Cuma meniru, meniru, meniru… (Kakek rebah, Nenek menjerit)
Nenek : (Terseduh)
e. Menghibur, tindakan Kakek untuk membuat Nenek berhenti menangis.
Kakek : Bukan maksudku memperolok-olok kau, Bu. Aku justru memuji tindakanmu yang berani.
f. Percaya diri, sikap Kakek ketika ia menyatakan diri ingin menjadi profesor, diplomat, dan teknokrat.
Kakek : Yaaa, aku dulu memang punya cita-cita jadi professor.
Kakek : Aku akan segera jadi diplomat sekarang juga. Di mana posku? Negara-negara Barat? Timur? Asia? Atau PBB…?
Kakek : Aku mau jadi teknokrat dalam bidang….
g. Ikhlas, sikap Kakek ketika menerima saran Nenek untuk menjadi diplomat demi menyelamatkan perkawinan mereka.
Kakek : Ada apa kau? Kau tidak senang aku jadi professor. Kau kepingin aku jadi diplomat? Baik. Aku akan jadi diplomat demi keelamatan perkawinan kita.
h. Termenung, sikap Nenek ketika mendengar pembicaraan Kakek dan sikap Kakek ketika mendengar pembicaraan Nenek.
Kakek : Diplomat terlalu banyak menipu hati nuraninya sendiri. (Nenek termenung tiba tiba)
Kakek : Tapi… (Lalu duduk di sofa termenung)
i. Berdebat, sikap Nenek dan Kakek yang memperdebatkan jabatan menjadi profesor, diplomat, dan teknokrat.
j. Sadar, suasana ketika Nenek dan Kakek tersadar bahwa apa yang telah mereka perdebatkan hanyalah hayalan semata.
Nenek : Mengapa kita berpikir yang bukan-bukan?
k. Menegangkan, suasana ketika Kakek berbicara dengan penuh semangat hingga membuatnya rebah tak berdaya yang membuat Nenek menjerit dan menangis.
Kakek : Kreativitas harus dibangkitkan. Bukan dengan konsep-konsep tetapi dengan merangsangnya… dengan menggoncangkan jiwanya agar tumbuh keberaniannya menjadi diri sendiri. Tidak menjadi manusia bebek. Yang Cuma meniru, meniru, meniru… (Kakek rebah, Nenek menjerit)
Nenek : (Terseduh)
l. Bangkit, keadaan Kakek setelah terbangun dari rebahannya.
Kakek : (Bangkit tetapi tidak diketahui oleh Nenek). Mengapa kau menangisi aku, tangisilah dirimu sendiri.
m. Mengerikan, suasana hati Nenek ketika mengingat kematian.
Nenek : Kapan kita mati? 
Kakek : Entah. Tapi kita harus siap-siap
Nenek : Sungguh ngeri!
n. Menakutkan, suasana hati Nenek dan kakek ketika mengingat kematian.
Kakek : Memang. Tapi itulah kenyataannya.
Nenek : Aku takut
Kakek : Aku juga… (Terdengar lonceng jam dinding dua belas kali)
o. Aneh, suasana hati Nenek ketika mendengar suara jam dinding berbunyi dua belas kali untuk yang kedua kalinya.
Nenek : Dua belas kali…
Nenek : Aneh! Ini tidak mungkin. Apa aku salah mendengar?
p. Bingung, suasana hati Nenek yang tidak paham dengan arti kehidupan yang dijelaskan oleh Kakek.
Kakek : Mudah-mudahan kau tahu, begitulah hidup. Kebiasaan-kebiasaan, ukuran- ukuran, konsep-konsep tidak terlalu cocok….
Nenek : Bagaimana cara kita mengerti…?
Kakek : Itulah soalnya….
6. Petunjuk Laku
Petunjuk laku yang terdapat dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu diantaranya terdapat pada kutipan berikut:…
Nenek : (Bicara sendiri). Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…(Mengambil cangkir, lalu meminumnya)
Kakek : (Masuk). Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu?
Kakek : (Berjalan menuju ke meja, mengambil Koran, lalu pergi ke sofa, membuka lembarannya)
Kakek : Dilihat banyak orang tuuuh. (Menunjuk penonton). Sudah tua kenapa pacaran terus….
Nenek : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
Nenek : Ah, wanita. Bagaimanapun sudah tua, aku tetap wanita. (Berdiri, pergi ke kursi dan duduk). Dunia wanita yang hidup dalam angan-angan, takut kehilangan, tapi menuntut kenyataan-kenyataan.
….

7. Amanat
Amanat dari drama Sepasang Merpati Tua, karya Bakti Soemanto ini, yaitu:
1. Jika kita memiliki ilmu, maka manfaatkanlah ilmu itu untuk kepentingan orang banyak.
2. Jika kita menjadi seorang pemimpin, maka perhatikanlah kepentingan masyarakat demi menciptakan
kesejahteraan.
3. Jika kita memiliki jabatan tertentu, maka manfaatkanlah jabatan tersebut dengan sebaik-baiknya demi kepentingan diri sendiri dan orang lain.
4. Hargailah tiap jabatan yang diperoleh, bagaimana pun jenis jabatannya. 
5. Hargailah tiap kehidupan yang diperoleh, karena kehidupan yang telah diperoleh sebelumnya tidak akan pernah kembali lagi.

b. Unsur Ekstrinsik 
Nilai-nilai yang terkandung dalam drama Sepasang Merpati Tua, karya Bakti Soemanto, yaitu:
1) Nilai sosial-budaya
Nilai sosial-budaya terletak pada niat Kakek yang ingin menjadi diplomat kolong jembatan untuk membantu orang-orang yang tinggal di kolong jembatan agar mau hidup baik-baik dengan berusaha untuk mencari pekerjaan yang layak dan menimbulkan kepercayaan diri sendiri. Juga dapat dilihat pada niat Kakek yang ingin menjadi Teknokrat di bidang persampahan demi mencegah terjadinya banjir.
Kakek : Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu di bujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri-sendiri. Tidak sekedar di halau, di usir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk….
Kakek : Aku mau jadi teknokrat dalam bidang….
Kakek : Bidang persampahan.
Kakek : Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat di jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya… (Nenek termenung)

2) Nilai Moral
Nilai moral teletak pada sikap Kakek yang bijaksana dalam menanggapi segala sikap Nenek terhadapnya. Juga pada sikap Kakek yang peduli terhadap sesama dengan memperhatikan kehidupan orang-orang yang hidup di kolong jembatan dan niat Kakek untuk membersihkan sampah-sampah demi mencegah terjadinya banjir yang dapat merugikan banyak orang. Serta, teletak pada sikap Nenek yang peduli terhadap Kakek dengan jabatan yang ingin diraihnya dan sikap pedulinya terhadap kondisi Kakek.

Kakek : Ada apa kau? Kau tidak senang aku jadi professor. Kau kepingin aku jadi diplomat? Baik. Aku akan jadi diplomat demi keelamatan perkawinan kita.
Kakek : Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu di bujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri-sendiri. Tidak sekedar di halau, di usir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk….
Kakek : Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat di jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya… (Nenek termenung)
Nenek : Suamiku, sudahlah nanti penyakit napasmu kumat lagi. Kalau kau terlalu semangat begitu….

3) Nilai Agama
Nilai agama terletak pada perkataan Nenek dengan membawa nama Tuhan dalam menentukan jenis diplomat yang harus diambil oleh Kakek. Serta terletak pada niat Kakek yang ingin membersihkan sampah-sampah yang menumpuk di selokan, sebab dalam agama menyatakan bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman”.
Nenek : Tapi itu lebih sukar, sebab Tuhan susah diajak berdebat. Tuhan Cuma diam saja. Orang hanya mengerti apa mau Tuhan kalau sudah terlaksana. Sedang rencana-rencana selanjutnya. Masih gelap bukan? Bagaimana kau mengajukan argumentasi-argumentasimu jika mau ajak Tuhan berdiskusi? (Kakek geleng kepala)
Kakek : Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat di jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya… (Nenek termenung)

4) Nilai Ekonomi
Nilai ekonomi terletak pada kehidupan Kakek dan Nenek yang hidup sederhana dengan menikmati hidangan apa adanya, serta dengan perabotan rumah yang mulai lusuh. 
“Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela.”

2 komentar:

Muhammad Yusuf mengatakan...

terima kasih banyak ya ...
ini sangat membantu ..

nunu chaya mengatakan...

YUPZ... TRIMAKSIH UNTUK KUNJUNGANNYA...

Poskan Komentar

 
;