Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan
Rabu, 10 April 2013 0 komentar

Talaga Remis




Kabupaten Kuningan, yang terletak di baratdaya Gunung Ciremai, Jawa Barat, memiliki banyak sekali obyek wisata, baik wisata alam, sejarah maupun budaya. Salah satu di antara sekian banyak obyek wisata tersebut adalah Telaga Remis. Telaga ini terletak di Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, sekitar 37 kilometer arah utara dari Kota Kuningan atau 13 kilometer arah selatan dari Kota Cirebon. Telaga Remis berada pada ketinggian sekitar 220 meter dari permukaan laut dan mempunyai luas sekitar 3,25 hektar dengan kedalaman airnya mencapai 12 meter.


Objek wisata satu ini dijadikan lagu juga loh, judulnya " Talaga Remis" di nyanyiin sama Nining Meida. Yang mau denger lagunya tinggal clik aja ni http://www.youtube.com/watch?v=V7Pyihlf9UY





Nama Talaga Remis mempunyai arti tersendiri, nama talaga diambil dari kata talaga dalam bahasa Sunda , dan remis tersebut diambil dari binatang sejenis kerang bewarna kuning yang banyak hidup di sekitar telaga, binatang tersebut dikenal dengan Dari mulut tetua didaerah itu, mendengar bahwa Talaga Reumis dibuat oleh Prabu Siliwangi, Raja Padjajaran yang namanya hampir menjadi mitos itu. konon pada masa itu, Prabu Siliwangi sedang melakukan pertapaan di hutan batu tersebut. Dan karena kontur tanah yang sedemikian tandus itulah maka untuk memenuhi kebutuhan minumnya selama menyepi di wilayah itu Prabu Siliwangi hanya mengandalkan embun (dalam bahasa Sunda disebut reumis) yang dikumpulkan dengan daun pisangyang dikerucutkan. Setelah rasa hausnya berkurang,


Prabu Siliwangi pun membuang sisa air yang terdapat di pincukan daun tersebut seraya berkata; "Ini sisa embun yang pernah menolong saya dari rasa haus, semoga sisanya berubah menjadi telaga yang kelak akan berguna bagi masyarakat sekitar." Aneh, setelah berkata begitu, di antara sela-sela batu di mana sisa embun itu dibuang keluar airyang begitu deras hingga akhirnya membentuk sebuah telaga yang sekarang dikenal dengan nama Talaga Remis.

Selain pemandangan dan berbagai keindahan yang ada dikawasan itu, masyarakat disekitar situ juga percaya bahwa seseorang yang mengunjungi tempat itu bersama pasangannya tak lama setelah dari sana hubungan orang itu akan putus, tetapi apabila seseorang berwisata ke tempat itu dan belum mempunyai pasangan, bertemu ditempat itu,hubungannya akan langgeng.


Telaga Remis terdiri dari 8 telaga yaitu : Telaga Leat, Telaga Nilem, Telaga Deleg, Situ Ayu Salintang, Telaga Leutik, Telaga Buruy, Telaga Tespong, dan Sumur Jalatunda.


Selain pemandangan telaga yang asri, suasana rimbun hutan dan pegunungan juga menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi kabarnya hutan dikawasan tersebut menyimpan kurang lebih 160 jenis tumbuhan diantaranya sonokeling, malaka, kosambi dan lain-lain. Termasuk adanya satu jenis tumbuhan langka yaitu “Pisang Hyang”.


Objek wisata ini dapat dicapai dari Kecamatan Mandirancan, Palimanan, Cirebon dan dari Kota Kuningan. Kondisi jalan umumnya beraspal dan baik, dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat, dengan jarak rute perjalanan sebagai berikut : >> Palimanan – Talaga Remis ± 12 Km. >> Mandirancan – Talaga Remis ±25 Km. >> Kuningan – Talaga Remis ± 37 Km. >> Cirebon – Talaga Remis ± 30 Km Disepanjang jalan para pengunjung tidak akan bosan, karena sepanjang jalan terhampar pemandangan yang sangat indah.


Dan jangan lupa ada banyak rumah makan dimana kita bisa menikmati gurihnya ikan gurame goreng, enaknya gurame bakar sambil disuguhi pemandangan yang indah dan udara yang sejuk....

         



dari berbagai sumber




2 komentar

Objek Wisata Cibulan


  

Pernah dengar ga lirik lagu tarling Cirebonan berjudul Cibulan yang dipopulerkan penyanyi Cirebon Diana Sastra? (pasti kalo yang pernah naik bis pantura sering diputer tuh *.* ) cukup menggambarkan bagaimana indahnya kawasan objek wisata Cibulan di Desa Manis Kidul, Kabupaten Kuningan.



Angin gunung sumaliwir (semilirnya angin gunung), banyu bening (air yang jernih), lanang wadon adus-adusan, gede cilik sesenengan (laki-laki dan perempuan serta tua dan muda semuanya bersenang-senang).


Gambaran lirik tersebut memang sangat nyata saat pengunjung berada di kawasan objek wisata Cibulan. Tak hanya menyuguhkan hawa angin pegunungan, letaknya yang cukup strategis karena hanya sekitar 200 meter dari jalan raya Cirebon-Kuningan. Terletak di Desa Manis Kidul Kecamatan Jalaksana, 7 Km dari kota Kuningan ke arah Utara, atau berjarak 28 Km dari Kota Cirebon menuju Selatan. Menjadikan daerah tersebut menjadi pilihan banyak pengunjung untuk melepas penat saat liburan


Asal muasal nama Cibulan dari kata Cai Katimbulan yang berarti air yang timbul . Cai Katimbulan merupakan tempat hilangnya Putri Buyut Manis yang akan dijodohkan dengan Putra Buyut Talaga yang kemudian menghilang di tempat ini karena ketidaksetujuan Kepada Putra Buyut Talaga.


Kisah Kolam Cibulan juga tak lepas dari perjuangan para wali menyebarkan agama Islam ratusan tahun yang lalu di Cirebon. Konon dalam perjuangan mengislamkan daerah Kuningan, maka sampai di daerah Cibulan para wali menemukan sumber mata air yang selanjutnya dijadikan tempat peristirahatan. Selanjutnya dibuatlah kolam dan ditanami ikan kancra bodas.


Sedangkan di sekitar sumur tujuh oleh Prabu Siliwangi dipergunakan sebagai tempat bersemedi. Sumur tersebut juga oleh Prabu Siliwangi dipergunakan untuk keperluan membasuh muka untuk mensucikan diri dan mengheningkan cipta. Sumur tujuh tersebut masing-masing memiliki nama Sumur Kejayaan, Sumur Kemulyaan, Sumur Pengabulan, Sumur Cisandane, Sumur Kemudaan, Sumur Keselamatan, dan Sumur Cirancana.
Di bawah ini urutan ketujuh sumur tersebut.



    
Sumur 1                                                                       Sumur 2


      
Sumur  3                                                                      Sumur 4


    
Sumur 5                                                                    Sumur  6


    
Sumur 7                                                                       Sumur 7


Menurut cerita yang berkembang di kalangan Masyarakat Desa Maniskidul dan masyarakat Kuningan pada umumnya, ikan dewa yang ada di kolam Cibulan ini konon dahulunya adalah prajurit-prajurit yang membangkang atau tidak setia pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi. Singkat cerita, prajurit-prajurit pembangkang tersebut kemudian dikutuk oleh Prabu Siliwangi sehingga menjadi ikan. Konon ikan-ikan dewa ini dari dulu hingga sekarang jumlahnya tidak berkurang maupun bertambah. Apabila kolam dikuras, ikan-ikan ini akan hilang entah kemana, namun saat kolam diisi air, mereka akan kembali lagi dengan jumlah seperti semula. Terlepas dari benar atau tidaknya legenda itu sampai saat ini tidak ada yang berani mengambil ikan ini karena ada kepercayaan bahwa barang siapa yang berani mengganggu ikan-ikan tersebut akan mendapatkan kemalangan.





Pemandangannya pun tidak kalah ajaib. Sesekali, guguran daun-daun yang sudah menguning tertiup angin dan bertaburan di permukaan air kolam yang berwarna hijau, memantulkan bayangan pepohonan. Dan di bawah permukaan air yang bening, puluhan ikan berwarna abu-abu kehitaman berenang ke sana ke mari. Itulah ikan kancra bodas (Cyprinus carpio), yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat dengan sebutan Ikan Dewa.



Di Kolam Cibulan juga terdapat mitos tentang adanya kepiting emas (kepiting yang berkulit warna emas), yang tidak bisa dilihat oleh sembarang orang, tetapi bagi orang tertentu yang melihatnya, maka cita-citanya akan terkabul.


Kuatnya sejarah dan kepercayaan masyarakat setempat mnejadikan Kolam Cibulan kini menjadi satu wisata favorit. Apalagi pengunjung bisa berenang dan bermain dengan ikan-ikan keramat yang diyakini bisa menjadi obat segala penyakit.


dari berbagai sumber


2 komentar

Keramat Plangon

Buat saya yang asli dari Cirebon tempat wisata ini familiar sekali. Sering dilewatin kalo lewat jalur Sumber -Mandirancan. Kadang mampir-mampir sebentar iseng liat kera yang eksis berkeliaran ga takut sama manusia, cuek aja gitu. Ada yang makan kacang, ada yang nyari kutu, beragam deh kegiatan mereka.

Disini saya akan membahas tentang objek wisata ini sekaligus mitos yang mengiringinya... >.<

        

Plangon merupakan salah satu objek purbakala dari zaman Islam. Di keramat ini terdapat makam Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan. Lokasi Keramat Plangon secara administratif termasuk di wilayah Desa Babakan, Kecamatan Sumber. Lokasi ini sangat mudah dicapai dengan kendaraan roda dua maupun roda empat karena berada di tepi sebelah tenggara jalan raya yang menghubungkan Sumber – Mandiracan, Kabupaten Kuningan. Dari Sumber berjarak sekitar 1 km. Kawasan keramat merupakan hutan yang berada pada bukit. Luas kawasan tersebut sekitar 48 hektar. Hutan yang berada pada koordinat 06º 46' 322" Lintang Selatan dan 108º 32' 432" Bujur Timur ini dibatasi oleh kebun dan sawah di sebelah utara, sebelah timur Sungai Cipager, sebelah selatan sawah, dan sebelah barat jalan raya.

Untuk memasuki komplek ini melewati gerbang yang berada di barat laut. Dengan melewati jalan berundak yang berkelok akan sampai di puncak bukit di mana terdapat keramat. Pada lokasi tertentu di sepanjang jalan berundak tersebut disediakan selter untuk istirahat bagi peziarah yang kelelahan. Di sepanjang jalan berundak tersebut dapat disaksikan tingkah polah kera liar yang jinak. Konon kera-kera tersebut adalah peliharaan Pangeran Panjunan.
Di puncak bukit merupakan tanah datar yang sudah dilengkapi berbagai bangunan fasilitas bagi para peziarah seperti pendapa dan kamar kecil. Fasilitas ini dibangun pada 2005/2006. Bangunan cungkup makam berada di bagian utara halaman menghadap ke selatan. Bangunan keramat merupakan semacam bangunan berundak ke belakang terdiri tiga bagian yaitu halaman pertama, halaman kedua, dan bangunan cungkup makam. Seluruh bagian bangunan berwarna merah bata kecuali pintu cungkup berwarna hijau muda.

Jalan masuk menuju halaman pertama terdapat di sisi selatan berupa dua jalan berundak masing-masing terdiri 7 undakan. Jalan masuk pertama berada di bagian tengah dan jalan masuk lainnya berada di sebelah timur jalan masuk pertama. Kedua tangga naik ini merupakan bangunan baru terbuat dari batu yang disemen. Dinding tembok (talud) pada bagian bawah tidak dilepa. Talud di sisi kiri (selatan) jalan masuk pertama terbagi dalam 6 panil yang masing-masing dipisahkan pilaster bata. Talud di antara jalan masuk pertama dan kedua terbagi dalam 3 panel dan di sebelah kanan (timur) jalan masuk kedua terbagi 2 panel. Pada setiap panil terdapat hiasan tempel piring porselain. Puncak talud dibentuk melengkung, pada setiap ujungnya dihias kemuncak. Pembatas antara halaman pertama dan kedua juga berupa dinding talud.

Memasuki halaman kedua melewati jalan berundak yang juga terdiri dua buah. Kedua jalan masuk ini posisinya lurus dengan tangga masuk ke halaman pertama. Talud pembatas halaman pertama dan kedua bentuknya sama dengan talud halaman pertama. Halaman kedua berukuran panjang 5,5 m dan lebar 11,25 m. Pada bagian barat dan timur terdapat semacam bangunan gardu jaga. Lantai dan talud halaman pertama dan kedua dipugar pada tahun 1970 karena lantai terkelupas oleh kera-kera yang ingin mengambil binatang dari dalam tanah di bawah lantai.

Makam keramat telah diberi cungkup, terdiri bagian teras dan ruang utama. Pintu masuk cungkup terdiri satu pintu terletak di tengah. Pada kanan kirinya terdapat pilar semu yang dihias tempelan piring keramik Eropa. Piring-piring tersebut makin ke atas makin kecil. Pirig bagian bawah paling besar dengan warna hijau, bagian tengah berwarna coklat dan bagian atas berwarna kebiruan.

Atap ruang utama cungkup berbentuk tajug sedangkan atap serambi cungkup berbentuk panggang pe. Ruang utama cungkup berukuran 3,15 x 3,25 m sedangkan serambi berukuran 2 x 7,3 m. Bangunan cungkup dipugar tahun 1997. Di dalam ruang utama cungkup terdapat dua makam. Tokoh utama yang dimakamkan adalah Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan.
Sejarah mengenai kedua tokoh ini berkaitan dengan islamisasi tanah Jawa. Diceritakan konon pada abad ke-14 Raja Sulaeman bin Hud Al Baghdad dari Kerajaan Baghdad, Irak berputrakan Syech Syarif Abdurachman (Pangeran Panjunan), Syech Syarif Abdurachim (Pangeran Kejaksan), Syech Sayarif Kahfi dan Syarifah Bagdad. Keempat putra raja ini diikuti ± 1.200 orang dengan menggunakan 4 buah kapal berlayar untuk menyebarkan agama Islam di Jawa. Masing-masing kapal disertai 300 orang. Di antara pengikut tersebut terdapat sekitar 66 orang sebagai pengikut Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan.

Sesampainya di Giri Toba (Plangon) kemudiaan diadakan rapat di Puser Giri Toba yang sekarang menjadi tempat tinggalnnya (Astana Pelataran/Makam). Berdasarkan hasil rapat diadakan pembagian tugas, seperti ke Luar Batang, Demak, Kuningan, Darmayan, Kerajaan Galuh dan lain-lain. Pangeran Kejaksan semasa hidupnya tinggal di Kejaksan dan memangku jabatan sebagai jaksa I/Lurah I. Beliau wafat pada tanggal 27 Rajab dan di makamkan di Plangon.

Sedangkan Pangeran Panjunan semasa hidupnya tinggal di Panjunan, hinggga wafatnya pada tanggal 2 Syawal dan dimakamkan di Plangon. Makamnya bedampingan dengan Pangeran Kejaksan. Adapun turunannya adalah (1) Ki Gedeng Gamel, (2) Ki Gedeng Kali Walu, (3) Ki Gedeng Trusmi, (4) Ki Gedeng Weku, (5) Losarang, (6) Bedulan, (7) Celancung, (8) Ki Gedeng Pati dan (9) Ki Dampul. Sepeninggal Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan maka pada setiap tanggal 27 Rajab dan 2 Syawal makam tersebut banyak dikunjungi oleh keluarga Panjunan dan Kejaksan serta masyarakat dengan tujuan berziarah sebagai tepung tahun ketemu tahun berikutnya atau masa ziarah berikutnya. Komplek ini sekarang dikelola oleh Keraton Kanoman Cirebon.


Tempat wisata ini memiliki keunikan dibanding lokasi peziarahan lain. Di tempat yang sekaligus jadi obyek wisata ini, terdapat ribuan ekor kera tersebar di berbagai lokasi. Saking banyaknya dan terdorong naluri mempertahankan diri, kera-kera itu menghimpun diri dalam beberapa kelompok.

      


Menurut pandangan awam, kera-kera itu satwa biasa. Tapi menurut kacamata paranormal dan ‘orang pintar’, satwa berekor panjang ini sebagian terdiri siluman. Dari cerita turun-temurun, monyet-monyet ini berasal dari peliharaan Pangeran Kejaksaan. Ketika pangeran ini meninggal, kera-kera itu masih menetap di Kanoman Plangon, kemudian beranak pinak mencapai ribuan.

Apabila kita mulai menginjakkan kaki di kompleks Kramat, langsung akan disambut para ‘monyet’ ini. Agar mereka jadi sahabat, berilah mereka oleh-oleh beberapa ikat kacang rebus. Karena memang sudah terbiasa, mereka tak risih lagi berdekatan dengan manusia. Kalau pun ada yang hanya duduk-duduk, mereka selalu memandangi kita seolah-olah ingin menyapa atau mengajak bicara.

Komunitas kera ini dibagi menjadi 3 geng besar. Menetap di kompleks bagian barat, tengah dan timur. Masing-masing anggota kelompok tahu diri dengan tidak merambah daerah tetangganya. Plangon tak bedanya dengan ‘Keraton Kera’. Seperti umumnya kerajaan, kera-kera itu juga punya raja. Raja mereka berpostur tinggi besar dibanding rata-rata monyet. Sehari-hari hanya ongkang-ongkang di atas pucuk pohon jambu mengawasi rakyatnya. Jurukunci makam menamai raja kera itu dengan Werman. Sedang dua panglima-nya dinamai Dorji dan Acing.

Meski kera, ternyata mereka punya ‘konstitusi’. Namanya juga kera, setiap tahun jabatan raja diperebutkan melalui duel keroyokan tanpa aturan. Mereka yang bisa mendominasi dan memenangkan cakar-cakaran, otomatis menjadi raja. Pertanyaan dalam fit and propper test-nya barangkali justru begini : “Apakah sudah pernah mbrakot kera lain?”

Kalau sudah calon ini pasti okey. Tapi kalau belum, no way!

Selama 3 kali ‘pemilu’, Werman keluar sebagai pemenang. Hingga sekarang, dia masih berkuasa. Soal istri, Werman tak perlu susah-susah mencari. Kapan dan di mana saja, dia bisa memilih sendiri. Maka di ‘Keraton Kera’ Plangon, tidak ada istilah permaisuri.

Karena sekti dan kebal gigitan, Werman dianggap bukan sembarang ‘monyet’. Banyak yang menilai sebagai kera siluman. Anggapan itu setidaknya diberikan Kang Bani, paranormal desa Sumber, tak jauh dari Babakan. “Sebagian dari kera-kera itu adalah siluman. Berasal dari jadi-jadian pesugihan, termasuk Werman, Dorji dan Acing,” jelas Kang Bani.

Karena kekuatannya, Werman amat disegani warga kera. Bahkan manusia pengganggu ‘keraton’-nya akan dilabrak habis-habisan. “Pernah suatu kali ada warga mengambil seekor anak monyet. Karena ketahuan anggota ‘biro intelijen’ kera, Werman dan dua panglimanya langsung turun tangan sendiri menuntaskan masalah. Orang itu dikeroyok hingga luka berat. Beberapa hari dirawat di salah satu rumah sakit di Cirebon, akhirnya tewas,” kata Kang Bani.

Pernah ada warga Bandung bisa lolos membawa seekor anak monyet. Tapi beberapa hari kemudian balita kera itu dikembalikan ke Kramat Kanoman Plangon. Pasalnya, tiba-tiba seluruh anggota keluarganya menderita sakit. Percaya atau tidak, kera-kera itu ternyata punya kekuatan mistik.

Buat yang mau berkunjung silahkan lokasinya berada di pinggir jalan. Sekitar 15 km dari stasiun Kejaksaan Cirebon. Biar nyaman saat berkunjung jangan lupa bawa kacang.

Dan jangan lupa jaga tata krama.


  

disparbud jabar dan beberapa sumber lain.


 
;